Archive for March 18, 2008

Check out my Slide Show!

Constructivism

Dipelopori oleh Vladimir Tatlin pada tahun 1913 di daerah Rusia terbangun dari Kubism , Suprematism Rusia, Futurism Itali, Plastiksim di Belanda, dan Sekolah Bauhaus di Jerman. Pergerakan ini dimulai dari Rusia. Suatu respon untuk menyelesaikan masalah untuk mengubah pandangan dalam kehidupan sehari – hari, seni dan juga arsitektur yang mempengaruhi kehidupan sosial dan masalah ekonomi. Dua bersaudara Naum Gabo dan Antoine Pevsner juga turut berpartisipasi dalam pergerakan ini. Mereka memberikan sentuhan mematung dari Kubism dan Futurism melalui arsitektur, mesin dan teknologi. Pergerakan mulai terlihat pada tahun 1921, di mana kelompok Konstruktivis mulai terbentuk di kota Moscow. Dan akhirnya pergerakan ini mulai menyebar ke Jerman dan juga Belanda sebelum pada akhirnya mendapat respon internasional. Tapi pergerakan ini dianggap sebagai propaganda massa. Dikarenakan adanya Dekrit yang menentang, maka Gabo dan Pevsner pun pergi ke tempat di mana Tatlin tinggal yaitu Rusia. Pergerakan ini juga dikemukakan oleh Vsevolod Meyerhold melalui adegan bersifat theater.

Konstruksivism adalah karya seni yang didominasi oleh geometrik dan juga komposisi yang bersifat presisi, terkadang terkandung unsur matematis dan pengukuran dengan alat. Dengan memakai bentuk – bentuk dasar seperti persegi, segilima, lingkaran dan juga segitiga. Seni ini juga menggunakan bahan – bahan seperti kayu, seluloid, nilon, kaca plexi, timah, kabel dan lem secara bersamaan. Tetapi di kehidupan sekarang orang lebih memilih bahan seperti aluminium, elektronik dan krom. Seperti biasa semakin lama yang alami semakin dilupakan.

Seni Constructivism lebih mengarah ke optimistic, konstruksi relief yang tidak representational, pahatan, kinetik dan lukisan. Para senimannya tidak percaya pada ide yang abstrak, mereka lebih suka menghubungkan seni dengan ide yang konkrit dan jelas.

Adapula seni turunan dari Constructivism, yang biasa disebut “Dekonstruksi”. Dekonstruksi berlandaskan pada semangat konstruktivisme Rusia. Di mana di dalamnya mencoba untuk mengoyak mimpi indah tersebut melalui penampilan bidang-bidang yang simpang siur dan garis-garis yang merentang sehingga keseluruhan struktur seolah-olah akan segera ‘ runtuh ‘. Banyak kritik dilontarkan terhadap usaha Johnson dan Wigley dalam membeberkan paralelisme antara arsitektur dan dekonstruktivisme dengan kontruktivisme Rusia. Alasannya karena mereka hanya mendasarkan pada kemiripan bentuk dan prinsip estetik, tapi sama sekali mengabaikan konteks social, politik, dan ideologis di mana kedua gejala tersebut tumbuh.

Pada akhirnya, Constructivism tidak hanya diterapkan di seni rupa 3-dimensional saja, tetapi juga di media seni rupa lain (2-dimensi dan cinema).